Probolinggo – Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo mengkritik keras Pemerintah Kabupaten Probolinggo terkait rencana penyelenggaraan event lari bertajuk SAE RUN yang dijadwalkan berlangsung pada 8 Februari 2026. Kritik tersebut muncul karena kegiatan dinilai tidak selaras dengan kondisi daerah yang masih dalam tahap pemulihan pascabencana.
Ketua II PC PMII Probolinggo, Achmad Syaifuddin, yang akrab disapa Apod, menilai pemerintah daerah kurang peka terhadap situasi darurat yang sedang dihadapi masyarakat. Menurutnya, pemerintah seharusnya memprioritaskan upaya mitigasi dan rehabilitasi pascabencana dibandingkan menggelar event olahraga berbayar.
“Ekonominya siapa? Ekonominya masyarakat atau pemerintah?” tegas Apod saat memberikan pernyataan kepada media.
Ia juga menanggapi pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) Probolinggo, Ugas Irwanto, pada 6 Februari 2026 yang menyebut kegiatan tersebut berpotensi meningkatkan perekonomian daerah. Apod mempertanyakan klaim tersebut, terutama terkait dampak langsung bagi masyarakat terdampak bencana.
Menurutnya, pelaksanaan SAE RUN yang menggunakan jalur Tol Prosiwangi via Kraksaan tidak memiliki relevansi signifikan dengan sektor pariwisata daerah. “Itu jalan tol, bukan sektor wisata. Tidak ada kontribusi nyata bagi penguatan pariwisata lokal,” ujarnya.
PC PMII Probolinggo menilai pemerintah seharusnya mengalihkan seluruh perhatian dan sumber daya untuk percepatan penanganan dampak bencana. Apod menyebut masih banyak fasilitas publik yang mengalami kerusakan berat, seperti sekolah, jembatan yang putus, serta rumah warga yang belum sepenuhnya tertangani.
“Saat ini yang paling urgent adalah mitigasi dan rehabilitasi. Banyak fasilitas publik rusak berat dan masyarakat masih membutuhkan bantuan. Ini yang seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah, bukan menggelar acara lari berbayar,” paparnya.
Berdasarkan informasi dari situs resmi penyelenggara saerun.id, event SAE RUN mewajibkan peserta membayar biaya registrasi mulai Rp135.000 hingga Rp250.000. Peserta akan memperoleh fasilitas berupa jersey, bib number non-chip, goodie bag, medali, serta kesempatan mendapatkan doorprize.
Kritik dari PC PMII Probolinggo ini menyoroti potensi ketidaktepatan prioritas kebijakan di tengah situasi darurat. Mereka mendesak Pemerintah Kabupaten Probolinggo untuk mengevaluasi ulang penyelenggaraan event tersebut dan memfokuskan anggaran serta tenaga pada pemulihan infrastruktur dan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana.