Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, suasana religius mulai terasa di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton. Majelis Taklim Al-Muhibin kembali menggelar rangkaian kegiatan rutin berupa istighotsah dan taklim yang dipusatkan di halaman rumah salah satu warga. Sejak sore hingga malam, ratusan jamaah dari berbagai kalangan berdatangan. Mereka duduk berjejer rapi, mengikuti doa bersama dan pengajian sebagai bentuk ikhtiar menguatkan iman sekaligus membangun kesadaran keagamaan di tengah masyarakat.
Kegiatan ini bukan hanya dilaksanakan menjelang Ramadan, namun juga terus berlanjut selama bulan Ramadan dengan jadwal pengajian dan istighotsah satu kali dalam sepekan. Warga menilai agenda tersebut menjadi ruang mempererat kebersamaan, sekaligus penguat batin untuk menyambut bulan penuh ibadah.
Pada kesempatan pembuka, panitia menghadirkan KH Moh. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, sebagai narasumber. Dalam penyampaiannya, KH Zuhri mengangkat tema “Menghidupkan Hati yang Lelah”. beliau mengajak jamaah merenungi bahwa manusia tidak hanya membutuhkan makanan untuk jasad, tetapi juga butuh asupan untuk batin. Menurutnya, ada banyak orang yang tampak kuat bekerja dan menjalani rutinitas, tetapi rapuh saat berhadapan dengan ibadah dan ujian hidup karena hati tidak diberi “makanan” yang cukup.
KH Zuhri menjelaskan bahwa makanan batin bisa berupa dzikir, ilmu, amal, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang menjaga hati tetap hidup. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat. Ia memberi contoh kehidupan para petani yang sering menghadapi pekerjaan musiman yang tidak mudah ditunda, seperti panen tembakau. Namun, ia mengingatkan agar kesibukan mencari nafkah tidak menjadi alasan untuk menggeser kewajiban ibadah.
Bagi KH Zuhri, keseimbangan bukan berarti meninggalkan pekerjaan dunia, melainkan menempatkan ibadah wajib sebagai prioritas yang tidak boleh dikorbankan. Ia menegaskan, pekerjaan yang memang harus dikerjakan tetap boleh dilakukan, tetapi jangan sampai shalat wajib dan kewajiban agama justru ditunda.
Dalam uraian yang lebih mendalam, KH Zuhri menyampaikan langkah-langkah praktis untuk menghidupkan hati yang lelah. Pertama, mencari ilmu. Ia menilai ilmu menjadi cahaya yang menuntun seseorang memahami batas hak dan kewajiban, sehingga tidak mudah terjerumus pada perbuatan merugikan orang lain. Kedua, mengamalkan ilmu. Menurutnya, ilmu yang hanya didengar tanpa diamalkan tidak akan membentuk karakter dan tidak memberi kekuatan pada batin. Ketiga, menahan diri dan melatih kedisiplinan. Ia mengajak jamaah untuk membiasakan diri menahan hawa nafsu, menjauhi maksiat, serta terus membangun kesalehan—bukan hanya kesalehan pribadi, tetapi juga kesalehan sosial melalui amal dan kepedulian terhadap sesama. Keempat, memperbanyak doa dan memohon pertolongan Allah. Ia menutup pesannya dengan ajakan agar jamaah selalu meminta hidayah dan keteguhan hati supaya diberi jalan yang benar dalam menjalani aktivitas kehidupan.
Sementara itu, Ust Usman dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan istighotsah dan taklim tersebut terlaksana berkat swadaya masyarakat. Ia mengapresiasi kekompakan warga yang bahu-membahu menyiapkan kebutuhan acara, mulai dari tempat hingga konsumsi, demi menghidupkan suasana Ramadan.
Dengan kebersamaan dan semangat gotong royong itu, Majelis Taklim Al-Muhibin berharap istighotsah dan taklim rutin ini dapat menjadi penguat iman masyarakat, mempererat persaudaraan, serta menjaga semangat ibadah selama Ramadan berlangsung.